Khutbah Jumat Singkat - Status Dan Eksistensi Manusia


Artinya : 
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama Allah (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) Agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Ar Ruum 30). 

Ada dua hal yang perlu dicermati, pertama nilai kwalitas seorang hamba di hadirat Allah untuk menentukan mulia atau hinakah dia. UkuranflYa adalah taqwa hamba itu sendiri “Inna akramakum ‘Indallaahi Atqaakum”, sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. (Al-Hujurat 13) 

Kedua, di dalam perubahan sosial, beban dan kesulitan yang akan dihadapi manusia jauh lebih sarat dan komplek. Untuk itulah kekuatan dalam. yaitu tenaga kejiwaan yang cukup handal. 

Tenaga kejiwaan yang dapat menimbulkan daya kreasi, inovasi dan improvisasi adalah inian dan taqwa kepada Allah dengan ditopang oleh amal-amal shaleh. 

Kita lihat kenyataan bahwa kita akan menghadapi hari kebangkitan Nasional kedua, yaitu penibangunan Nasional jangka panjang tahap kedua (lepas landas). 

Kalau diamati dari program dengan segala organisasi dan unsur-unsur birokrasinya itu adalah faktor teknis dan taktis sebagai managerial resourcisnya. Tetapi sebagai faktor strategisnya, adalah human resourcis, yaitu sumber daya insani. 

Sebelum segala program yang akan menuntun dan menjadi panduan untuk melaksanakan pembangunan jangka panjang kedua, justru sumber daya insaninya yang harus lepas landas lebih dulu, dalain arti mempunyai kesiapan yang integralistik. 

Islam dalam hal ini tentunya memberikan sesuai dengan fitrahnya, yaitu pertama dilihat dari status dan kedua dilihat dan eksistensi manusia itu sendiri. 

Dari status, pertama secara vertical oriented “Hablun Min-Allah” jelas manusia adalah makhluk. Oleh karena itu yang dipersiapkan adalah konsekwen dan konsisten dengan dirinya, yakni bertingkah laku sebagai makhluk Allah. 

Kedua, status manusia adalah horizontal oriented, yakni ciptaan Allah yang paling tinggi martabatnya, maka manusia dipersiapkan untuk melakukan perbuatan yang paling luhur. Jangan sampai melakukan perbuatan yang menjatuhkan martabat luhur itu. 

Manusia dalam pembangunan di samping sebagai subyek dia juga sebagai obyek. Dia membangun soal pangan, dia sendiri butuh makan. Dia membangun politik, dia sendiri membutuhkan politik. 

Maka apabila dalam berekonomi, berpolitik, berkebudayaan yang menyebabkan jatuhnya martabat dan derajat manusia, hal ini bertentangan dengan cita-cita manusia itu sendiri. Dilihat dan eksistensinya, manusia adalah makhluk jasadi (fisical being). Untuk meningkatkan pembangunan dibutuhkan fisik yang handal. 

Kebutuhan fisik mencakup tiga hal, yaitu: gizi, istirahat, dan kesejahteraan terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan medik (kesehatan). Hal ini merupakan kebutuhan mutlak karena modal dasar pembangunan itu sendiri adalah manusia. Oleh karena itu kesejahteraan fisik ini harus dicapai seoptimal mungkin. 

Manusia juga makhluk aqli (intelektual being). Manusia harus mempunyai keterampilan ilmu dan teknologi. Islam mengharuskan untuk menuntut ilmu. Wajib ‘ain (secara individu) di bidang agama Sehingga tidak ada alasan bagi orang islam tidak mengerti ajaran agamanya. Dan wajib kifayah (secara menyeluruh) di bidang ilmu dan teknologi, maka umat Islam harus memiliki pakar pakar sesuai dengan kebutuhan, dan tantangan zaman ini kewajiban material dalam soal ilmu. 

Kewajiban dalam dimensi waktu, manusia diharuskan menuntut ilmu mulai dan buaian ibu sampai ke liang lahat. Meskipun sudah bekerja dia tetap menuntut ilmu sesuai tugasnya dan dimana dia harus bertanggung jawab. Secara vertical keada pengadilan ilahi dan secara horizontal kepada lembaga penyelenggara management itu sendiri. 

Keterampilan individual dan keterampilan kelompok mutlak harus dimiliki untuk memenuhi cita-cita management. Sebaliknya management juga harus memenuhi kebutuhan fisik dengan baik. Makan saja hams dengan makanan yang halal dan baik (thoyib). 

Manusia juga moral being (makhluk akhlak). Untuk berakhlak dibutuhkan guide. Langkah langkah dunia apa saja menurut bidangnya, misalnya dunia perbankan mengalami berbagai perkembangan sesuai aturan main yang berlaku pada garis teritorial dalam negeri maupun luar negeri, maka semua orang yang terikat dalam tugas-tugas perbarikan ia harus memiliki teknologi perbankan sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang dipikulnya. Begitu juga dengan moral, manusia harus memiliki moral yang bertanggung jawab. 

Manusia juga spiritual (religius) being (makhluk beragama). Kemampuan kehidupan beragama seseorang baik dalam hidup individu, sosial kemasyarakatan perlu dinilai, sebab masih ada orang menganggap sepele. 

Dalam beragama iman merupakan faktor strategis untuk mencapai cita-cita dan penyelenggaraan kegiatan yang berkwalitas. Sebab iman itu merupakan motor (pendorong) untuk berbuat baik, karena ia yakin aktifitasnya itu mempunyai nilai kwalita dim ensi duniawi dan ukhrawi. 

Oang beriman adalah orang yang dapat dipercaya melakukan tugas-tugasnya dengan baik. Tetapi kalau ternyata orang beriman tidak mampu melakukan tugas pokoknya dengan baik berarti imannya yang tidak berfungsi, mungkin karena ia tidak ma’rifat (mempunyai ilmunya) atau karena lingkungannya. 

Untuk itu perlu adanya sterilisasi personal dan sterilisasi lainnya, sehingga kita selalu siap untuk tinggal landas. 

Manusja juga individual being. Tidak ada dua insan yang mempunyai kemampuan yang sama, baik fïsik maupun mental. Tidak terdapat cap ibu jari yang sama dan juga tidak ada presepsi yang sama. Artinya tiap individu mempunyai kelebihan dan kekurangan. 

Nah pandailah memanag kelebthan seseorang sehingga dia memiliki keterampilan individual yang handal untuk mencapai cita-cita management itu. 

Yang terakhir manusia adalah sosial being. Ada orang keterampilan individualnya hebat, tetapi ketika diterapkan di dalam keterampilan kelompok tidak mampu. Hal ini perlu mendapatkan kajian tersendiri. Sudahkah kita siap sesuai dengan fitrah kita! 

Sumber : Khutbah Jum’at pada tanggal 1 Nopember 1991 di Kantor Pusat BRI

Khutbah Jumat Singkat - Status Dan Eksistensi Manusia

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Khutbah Jumat Singkat - Status Dan Eksistensi Manusia